Yayasan Kasih Palestina dan Sejumlah NGO Respons Terbentuknya Board of Peace dengan Gerakan Indonesia Gaza Inisiatif

IMPRESIF.COM – Guna mempercepat pemulihan warga di Jalur Gaza, Yayasan Kasih Palestina berkolaborasi dengan sejumlah lembaga kemanusiaan membentuk Indonesia Gaza Inisiatif (IGI).

Aliansi ini lahir sebagai respons atas lambatnya pemulihan di Gaza pascakesepakatan gencatan senjata pada 10 Oktober 2025 dan pembentukan Board of Peace (BoP) yang dinisiasi Presiden AS, Donald Trump.

Langkah ini diambil karena kondisi warga Gaza yang masih memprihatinkan akibat pelanggaran gencatan senjata yang berulang kali dilakukan Israel sejak Oktober 2025.

BoP dinilai belum efektif menjamin keselamatan warga Gaza. Menyadari bahwa bantuan kemanusiaan tidak bisa menunggu proses birokrasi pemimpin dunia, koalisi NGO Indonesia, termasuk Yayasan Kasih Palestina, Yayasan Harapan Amal Mulia, For Humanity, dan Amal Bakti Dunia Islam (Abadi), sepakat untuk segera bertindak melakukan aksi pemulihan pasca-pembentukan BoP.

Untuk diketahui, BoP didirikan berdasarkan Resolusi 2803 dari Dewan Keamanan PBB yang diadopsi pada 17 November 2025. Resolusi ini menyambut pembentukan BoP dan memberikan mandat untuk mengawasi proses transisi, stabilisasi, dan rekonstruksi di Gaza.

“Sebagai lembaga kemanusiaan yang intens menyalurkan bantuan masyarakat Indonesia ke Palestina, kami sering berkomunikasi langsung dengan perwakilan masyarakat Gaza. Dan, faktanya memang sangat menyedihkan, mereka butuh bantuan kita sekarang,” ungkap Direktur Yayasan Kasih Palestina, Nandang Cahya usai menghadiri Diskusi Terbuka Bertemakan ‘Nasib Gaza Pasca Board Of Peace’ di Jakarta, Jumat, 6 Februari 2026.

Nandang mengungkapkan betapa memprihatinkannya kondisi Gaza saat ini. Perang yang berkecamuk selama dua tahun terakhir telah meluluhlantakkan 83 persen infrastruktur, mulai dari permukiman warga, rumah sakit, sekolah, hingga tempat ibadah.

BACA JUGA: Pep Guardiola Ucapkan Assalamualaikum di Acara Konser Amal untuk Palestina

Para ahli memperkirakan bahwa proses rekonstruksi untuk mengembalikan Gaza seperti sediakala membutuhkan biaya fantastis, yakni lebih dari Rp1.100 triliun.