Yayasan Kasih Palestina dan Sejumlah NGO Respons Terbentuknya Board of Peace dengan Gerakan Indonesia Gaza Inisiatif

Di tengah kehancuran tersebut, kehadiran badan Board of Peace (BoP) bentukan Presiden AS, Donald Trump, justru menuai polemik.

Direktur Kasih Palestina, Nandang Cahya (batik berwarna biru) menandatangani kesepahaman bersama Yayasan Harapan Amal Mulia, Yayasan For Humanity dan Yayasan Amal Bakti Dunia Islam (Abadi) untuk membentuk Indonesia Gaza Inisiatif (IGI) di tengah ramainya polemik terkait kehadiran Board of Peace bentukan Presiden AS Donald Trump.

Keanggotaan Indonesia yang ditandai dengan pembayaran iuran sebesar USD 1 miliar (sekitar Rp17 triliun) oleh Presiden Prabowo Subianto memicu beragam reaksi, terutama karena absennya perwakilan resmi Palestina dalam badan tersebut.

Meski banyak yang ragu, ditambah dengan tidak dilibatkannya perwakilan Palestina di BoP ini, Nandang menilai kehadiran Indonesia dan beberapa negara Islam di dalam organisasi ini diharapkan bisa mewakili aspirasi masyarakat Palestina.

“Dan pemerintah pun sudah menyatakan kalau BoP ini melenceng dari tujuannya, Indonesia akan menarik diri. Jadi ya, kita dukung sambil terus berusaha membantu masyarakat Palestina untuk tetap bisa bertahan,” jelas Nandang.

Direktur Yayasan Harapan Amal Mulia, Agis Muhsin, menekankan bahwa Gaza sedang berada dalam status darurat. Akses terhadap kebutuhan dasar seperti air bersih dan pangan sangat sulit didapat.

Tentara Israel dilaporkan telah menghancurkan banyak sumur pompa serta lahan perkebunan warga. “Banyak sumur pompa yang telah dibangun sebelumnya, dihancurkan oleh tentara Israel,” ungkap Agis.

Belum lagi, kata Agis, ladang-ladang perkebunan milik masyarakat Gaza pun turut hancur. Oleh karena itu, Agis berharap bisa mengajak masyarakat untuk membangun sarana produksi makanan di Gaza sehingga mereka tidak lagi kelaparan.

Oleh karena itu, Agis berharap, kehadiran Indonesia di BoP bisa lebih mempercepat akses penyaluran bantuan untuk masyarakat Gaza.

Kondisi kesehatan masyarakat Gaza pun berada di titik nadir. Menurut Direktur Yayasan For Humanity, Rifky Abdullah, selain puluhan ribu korban meninggal akibat perang, ratusan ribu korban luka-luka belum sepenuhnya bisa tertangani.